Kamis, 17 Juni 2010

I’tibar Di Balik Mati Lampu

Menjengkelkan. Begitulah seringkali muncul perasaan apabila lampu padam. Sebuah sikap spontan di tepi sabar yang seolah terkikis oleh hilangnya cahaya. Ekspresi jengkel pun membuntuti dengan polah yang beragam. Dari yang wajar sampai kepada yang berlebihan.
“Mamaaa, takuuut. Huuuu. Aku ga bisa lihat apa-apa. Mama di manaa ...”.
”Masya Allah, mati lampu. Padahal cuaca bagus. Mungkin ada gangguan”.
“Yah, mati lagi. Ga siang ga malam. PLN brengsek. Iuran aja ga boleh telat. Pelayanan ga pernah meningkat. Ngakunya rugi melulu. Dikorup tuh!”.
Setiap saat hasil budaya dan teknologi melaju dengan cepat. Tetapi kesiapan mental untuk menghadapinya hampir-hampir berjalan merangkak. Sebelum lampu listrik menerangi rumah-rumah kita, kita jarang mengeluh bila malam tiba. Gelap yang merayap perlahan menjumpai Maghrib sampai Isya hingga menjelang Shubuh, kita sikapi dengan amat bersahaja. Kita masih rela pergi ke Surau dan Masjid untuk berdiri dalam shaf-shaf jamaah lalu mengaji meskipun hanya diterangi cahaya bulan atau lampu minyak. Lampu petromak sungguh sangat mewah kala itu. Jarang sekali yang emosional berhadapan dengan gelap, meskipun lampu harus mati karena kehabisan minyak. Tetapi jama’ah tetap gemuk. Orang mengaji tetap semarak. Masjid menjadi tempat yang amat hidup di antara Maghrib dan Isya, kemudian semarak lagi pada saat shalat Fajar di pagi buta.
Semenjak Neon dan Bohlam menggantung di langit-langit rumah, di Masjid-Masjid atau di Surau-Surau, manusia seolah enggan menikmati suasana malam. Bahkan pobia gelap. Ada kemunduran sikap mental setelah teknologi berhasil menggubah “habis gelap terbitlah terang”. Perubahan itu, amat mencolok.
Saat aliran listrik menjalar lancar dan cahaya lampu memenuhi setiap sudut rumah menjelang Maghrib, anak-anak lebih memilih bersila di depan televisi atau layar facebooknya. Sinetron, gossip, badut pengocok perut, musik, berita, sepak bola, sulap, ramalan atau debat kusir telah menggantikan “imam” Masjid dan Surau. Atau paling minim bergegas meninggalkan wirid dan ba’diyah agar tidak ketinggalan setiap episode acara pavoritnya. Masjid dan Surau jarang lagi terdengar gaung lantunan orang mengaji. Hanya cahaya lampu gantungnya yang mewah menyirami Masjid dengan aneka warna kristalnya yang kelap-kelip. Masjid dan Surau seolah ”mati” dalam terang.
Tapi tentu, dan harapan kita, ini hanyalah kenyataan pukul rata. Masih ada keluarga muslim yang tidak terjebak emosional karena teknologi. Mereka masih seperti dulu, setia dengan panggilan ketaatan saat kumandang adzan menggema. Masih setia membunyikan rangkaian huruf-huruf Hijaiyyah selepas Maghrib menjelang Isya. Begitu juga masih ada banyak Masjid dan Surau yang tetap semarak. Sebagai ”Baitullah” dan pusat pusaran yang menarik bagai magnet setiap hati yang selalu bergantung pada-Nya. Bahkan ketika listrik padam, spiritnya tetap menyala.
Gelap karena sebab apapun sebenarnya adalah satu tanda dari ayat-ayat keagungan Allah. Dan manusia beriman tidaklah gagap dalam menghadapi penomena gelap. Pertama, karena orang beriman amat menyadari bahwa pengalaman hidupnya justru dilewati dari kegelapan. Di alam kegelapan itulah tubuhnya dibentuk dan ruhnya ditiupkan. Manusia merasakan rasa aman, nyaman dan hangat di tempat yang kokoh; rahim. Masa itu dilewatinya selama lebih kurang sembilan bulan. Masa itu adalah masa gelap yang paling istimewa dalam kandungan ibu.
Kedua, gelap adalah instrumen untuk mengukur kadar kebajikan. Apakah ia akan tetap cukup memiliki cahaya ketika akan masuk ke dalam ruang gelap liang lahad sehingga alam barzakh itu akan tetap terang, nyaman, luas dan hangat seperti kandungan ibu karena kebajikan dan imannya menjadi suluh baginya. Di sinilah hati yang penuh iman akan selalu tergerak untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya sumber cahaya sebagai teman yang akan menemaninya terbaring kaku di perut bumi nanti sampai waktunya ia dibangkitkan. Begitu nikmatnya ia di komplek pekuburan, sampai-sampai ia merasakan betapa cepatnya kiamat terjadi. Bagaikan orang yang terjaga dari tidur sekejap saja seraya berujar, ” Ah, cepat sekali waktu berlalu. Rasanya baru beberapa jam saja aku terlelap”. Padahal bisa jadi, ia telah terbaring ribuan tahun yang lalu terhitung sejak nafasnya berhenti.
Hati yang penuh iman selalu beramal saleh agar kuburnya tidak menjadi kegelapan kedua tetapi menyengsarakan. Layaknya ruang bawah tanah tanpa ada secuilpun lubang cahaya, ditambah lagi dengan siksanya yang pedih dan seperti tak berkesudahan. Sehingga sering mereka memohon untuk dikembalikan ke dunia untuk menjadi mushalli, atau berinfak atau menjadi orang soleh dan berharap kapan kiamat segera datang.
Kegelapan inilah yang membuat telinganya selalu menangkap dengung pesan Nabi. ”Berhati-hatilah kalian pada perbuatan zalim. Sebab kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat”.
Ketiga, kegelapan fisik dengan segala manifestasinya hanyalah sinyal untuk kembali menangkap pesan Tuhan, bahwa manusia tidak bisa menyandarkan keselamatan hidupnya hanya dengan kekuatan fisik sebab ia sangat terbatas. Mata barulah berfungsi apabila ada cahaya yang memantul ke retina dan menangkap bayangan di depannya. Tetapi, apabila cahaya itu hilang, hilang pulalah fungsi mata itu. Maka gelaplah sepanjang jarak pandang yang buta. Di sini menjadi terang, mengapa banyak orang yang histeris ketika lampu mati.
Lalu mengapa banyak orang yang melek tetapi hakikatnya buta? Yaitu mereka yang tidak sanggup menangkap atau enggan menangkap kebesaran Allah melalui penglihatannya. Penglihatannya tak pernah sejuruspun mengarah ke Ka’bah, tetapi dihabiskan untuk hal-hal yang mengundang nafsu birahi dan kepuasan sesaat. Maka alangkah ruginya bola mata itu jika hanya mengikuti nafsu. Dan sungguh amatlah beruntung orang yang buta bola matanya, tetapi memiliki ketajaman menangkap cahaya iman. Manusia mulia seperti Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ’anhu amatlah beruntung. Orang seperti ini adalah sesabar-sabarnya mahluk di saat lampu mati dan tidak pernah bergantung kecuali pada cahaya imannya.
Akhirnya, gelap memang mengundang sejuta respon. Ada yang enggan. Ada yang biasa saja. Ada juga yang sengaja ingin “gelap-gelapan”. Yang pasti semuanya ingin tetap terang sampai liang kubur dan pada hari di mana manusia mempertanggungjawabkan amalnya sendiri-sendiri.
Semoga kita adalah orang yang bermandi cahaya sepenuh hidup yang fana’ sampai yang baqa’. Allahu a’lam.
www.eramuslim.com

















oleh abuWafi Senin, 02/11/2009 14:33 WIB Cetak | Kirim | RSS
A Day with the Prophet
… whether it is in fact more difficult to live by God-given rules than by the man-imposed and alienating patterns and norms of behaviour that are the basis of today's way of life, can only be discovered if one tries it for oneself…
Lampu penyebarangan jalan baru saja berubah menjadi hijau. Tram no 7 yang dari kejahuan mulai mendekat dan dinginnya udara akhir musim gugur serta hembusan angin malam yang mengigit benar-benar memaksa kaki-kakiku untuk bergegas. Sekejab kemudian aku sudah tiba di depan bangunan besar berpintu kaca. Bangunan ini dulunya adalah rumah sakit tua yang setelah direnovasi sekarang disulap menjadi salah satu bangunan terindah di sebuah kampus ternama di negeri batu cadas ini.
Sesaat kemudian, tepatnya pukul 17.30, kami bertujuh sudah duduk mengeliling meja kayu berbentuk empat persegi panjang. Acara Jum’at sore seperti ini adalah acara yang paling kurindukan bilamana aku kembali ke negeri batu cadas ini. Sore ini agak spesial, karena ada bror (kami biasa menyapa satu sama lain dengan ‘bror’ yang artinya 'brother') yang baru saja datang dari Indonesia membawa energen rasa jahe. Harum bahu jahe dari energen yang baru saja diseduh dan jeruk ‘clementin’ yang kulitnya halus orange (dan rasanya yang begitu khas) menjadikan suasana sore itu agak berbeda dari biasanya. Aku selalu berfikir, minimal ada dua hal yang indah di musim gugur, pertama mozaik daun-daun yang berubah-ubah warnanya sebelum akhirnya jatuh ke bumi dan yang kedua tentunya jeruk clementin yang hanya singgah di negeri batu cadas ini pada saat musim gugur.
Pembicara sore ini adalah bror Rozaq (bukan nama sebenarnya, namun kisah yang dia tuturkan adalah kisah nyata, pengalam pribadi). Bror Rozaq, walaupun usianya jauh lebih muda dariku, badannya jauh lebih besar dariku. Kulihat sepintas dia agak, kata orang Inggris agak nervous…“bila ada yang benar segala sesuatunya” , aduh apa ya, … “semua yang benar adalah”, waduh kok lupa ya... Akhirnya setelah mencoba berulang-ulang, bror Rozaq membuka tausiyahnya dengan mengatakan seperti yang dikatakan oleh ustad-ustad di tanah air ‘segala sesuatu yang benar datangnya dari Allah, dan bila ada kealpaan datangnya dari gue sendiri’.
“Sore ini gue ingin sharing pengalaman gue, Alhamdulillah, dengan izin dan pertolongan Allah, gue sudah tiga setengah tahun menjalankan puasa sunnah senin-kamis” begitu bror Rozak bertutur. “Jadi summer (musim panas) tahun ini dan tahun kemarin ‘lu juga puasa?”, selidik seorang bror yang merasa kurang yakin. Kumiringkan posisi dudukku, agar aku bisa menatap bror Rozaq yang duduk di pojok, agar aku bisa lebih konsentrasi. “Bener, gue puasa, walaupun ketika itu puasanya 20-21 jam padahal pagi gue harus naik turun tangga menggantar koran dan selebaran promosi”, kata bror Rozaq dengan wajah penuh kejujuran. Aku masih sulit membayangkan bagaimana berpuasa sambil mengantar koran ke gedung-gedung berlantai yang tanpa lift. Dulu aku pernah setahun loper koran, tapi saat ini pas musim dingin, sehingga setelah ngantar koran jam 4 sampai jam 6 pagi aku masih bisa mengguk air karena waktu subuh belum masuk. "Lha kalau pass summer dibulan Juni dan Juli 'kan jam 2.30 pagi sudah masuk waktu fajar (subuh)", fikiranku berkelana mencoba membayangkan mengantar koran di dekat vasaplatsen yang gedungnya bertingkat 6 tanpa lift.
Bayanganku mengantar koran di musim panas terpotong ketika bror Rozak meneruskan “Tahu nggak, sebenarnya kebiasaan puasa gue ini bermula saat gue menbaca sebuah komik, di situ tertulis apa-apa yang bisa kamu lakukan, maka lakukanlah dan yang tidak bisa kamu lakukan tinggalkanlah” tutur Rozaq. “Kok kelihatannya pesimis ya” celetuk salah seorang bror yang selalu paling bersemangat diantara kami. “Iya, awalnya memang begitu, namun kata-kata tersebut gue ubah sedikit, berusahalah melakukan urusan-urusan yang bisa kamu lakukan, selebihnya mintalah dan serahkanlah urusan-urusan tersebut kepada Allah” begitu pembelaan bror Rozaq. Sekarang bror Rozaq, benar-benar telah jadi magnet bagi perhatianku. Bror Rozaq yang semula terkesan biasa-bisanya saja ilmu agamanya, sekarang aku merasa ‘kerdil’ baik secara fisik (ukuran badan tentunya) maupun secara capaian ruhiyah dan kematangan spiritual. Makanya jangan men-judge sebuah buku dari cover-nya, demikian kata-kata bijak.
Seorang bror berdiri untuk mendidihkan air karena air di termos mulai menyusut, bukan karena termosnya bocor, namun energen jahe memang mampu menghangatkan udara malam yang semakin dingin. Malam ini kampus sudah sepi, dua orang professor yang tadi diskusi di ruang seberang, baru saja melambaikan tangan sambil tersenyum dan berujar “ha trevliq helg” yang artinya dalam bahasa Jawa ”have a nice weekend”. Jum’at ini sebagian besar orang-orang hanya bekerja setengah hari atau bahkan libur karena besok tanggal 31 Oktober adalah hari pertama dari serangkaian hari yang orang-orang disini menyebutnya sebagai alla helgon dags, hari-hari dimana mereka mengingat arwah orang-orang yang telah meninggal. Ada bermaca-macam kegiatan pada alla helgon dags ini mulai dari para orang tua menyalakan lilin di samping nisan kuburan keluarga mereka hingga muda-mudi yang berpesta dengan atribut-atribut dan pakaian yang serem-serem.
“Ane banyak merasakan manfaatnya dengan berpuasa sunnah senin-kamis, manfaat tsb ane bagi dalam tiga macam : fisik, fikiran dan hati”, ujar bror Rozaq secara lebih serius. Bror Rozak menyampaikan bahwa saat ini dia sedang berusaha mengubah 'gue' menjadi 'ane'. Energen jahe dan jeruk clementin yang semula jadi pusat perhatian, perlahan ditinggalkan, semua bror merapikan duduknya dan menatap serius ke arah bror Rozaq. “Terus terang gue sekarang menjadi lebih sehat, Alhamdulillah, hampir tidak pernah sakit, dan rajin berolah raga termasuk jogging. Dulu gue, paling benci dengan yang namanya jogging, karena gue (bror ini masih sering terpeleset nyebut gue bukan ane) pikir jogging itu kagak menarik, tidak seperti sepak bola misalnya. Sekarang ane seneng jogging walaupun terkadang ane merasa seandainya berat gue bisa dituruni beberapa kg saja, ane merasa akan lebih enak joggingnya” bror Rozaq terus berceloteh. “Don’t worry bror tentang berat badan”, celetuk seorang bror (yang maaf memang agak lebih gemuk) yang duduk persis bersebrangan dengan posisi dudukku. Aku baru pertama kali bertemu dengan bror yang agak gemuk ini, namun Subhan’Allah, semangatnnya sungguh luar biasa.
“Gue entah gimana sulit sekali berkonsentrasi dalam waktu yang lama, namun, Alhamdulillah, sekarang rasanya ane fikirannya jadi lebih jernih, walaupun belajar tidak terlalu lama, namun yang tertangkap juga banyak” bror Rozaq buru-buru meneruskan agar suasana yang kurang nyaman terkait soal berat badan tadi tidak berlanjut. “Betul juga” cetusku ”terkadang pas fikiran bersih dan hati jernih, kita mudah sekali menyelesaikan soal dan hitungan karena kita bisa segera menemukan ‘main-idea nya’ namun tidak jarang berjam-jam kita melototi tulisan dan angka-angka pada kertas, tidak membawa kita kemana-mana”.
“Nah sekarang soal pengaruh puasa terhadap suasana hati, yang satu ini memang sulit diungkapkan, kayaknya tuh yang tahu hanya kita dengan Allah - Sang Pencipta”, kali ini bror Rozaq mengucapkan dengan perlahan dan suara yang lebih ditekankan. “Pokoknya hati terasa tenang, damai dan tidak gelisah” kata bror Rozaq. Dia melanjutkan, tapi sekarang gue lagi nyoba nih, agar tidak semua yang tersirat dalam benak ane langsung ane munculkan dalam bentuk perbuatan atau tindakan. Gue lagi nyoba bagaimana yang tersirat tadi, bisa diolah di dalam fikiran ane dulu dan diendapkan di dalam hati, sebelum muncul sebagi suatu perbuatan atau tindakan”, terang bror Rozaq dengan lebih sistematis. ”Oh mungkin apa yang bror ini maksudkan adalah orang yang terbiasa berpuasa lebih mudah menggendalikan dorongan-dorongan yang ada di dalam benak kita”, aku berusaha menebak apa yang dimaksudkan oleh perkataan bror Rozaq tadi.
“Dan juga, apa tuh bror, bahwa ada hadist Nabi yang mengantakan Aku seperti persangkaan hambaku…”, tutur bror Rozaq tidak begitu yakin. “Oh, maksudmu hadist Qudsi yang mengatakan ; sesungguhnya Allah berfirman : “Aku seperti persangkaan hambaKu kepadaKu…”, ujar bror yang tinggalnya sekamar dengan bror Rozaq. “Nah itu dia, karenanya, sekarang gue berusaha menahan emosi dan kalaupun terpaksa marah gue tidak lagi mengatakan ‘rasain lu, entar gue do’ain jatuh miskin’ namun gue ganti dengan ‘rasain lu, entar gue do’ain biar jadi kaya”, begitu bror Rozaq menyampaikan dengan bersemangat, Semua bror tertawa, dan semua membayangkan betapa indahnya dunia ini bila manusia tidak mudah emosi dan kalaupun terpaksa marah yang keluar adalah kata-kata yang baik.
“Det är klockan kvart i octa (maksudnya sekarang jam 8 kurang ¼) ”, ujar bror yang paling muda diantara kami mengingatkan. Bror yang paling muda ini yang membuka pengajian sore ini maka bror ini juga yang menutup. ”Subhanakallahumma wabihamdika ashadu ala ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaika”, demikian ujar kami sama-sama menutup forum kajian ini. Sekarang malaikat yang berada di atas langit negeri batu cadas tidak lagi melihat spot cahaya di negeri ini. Seorang bror dari Malaysia pernah mengatakan malaikat melihat permukaan bumi dalam suasana gelap gulita, namun diantara suasana gelap tadi ada banyak spot-spot (titik-titik) cahaya. Malaikat melihat spot-spot cahaya seperti nelayan yang melaut di dini hari melihat bintang-bintang di langit yang gelap. Tiap spot cahaya di muka bumi tadi berasal dari satu lingkaran (liqo’) dimana berkumpul orang-orang yang mengingat dan menyebut nama Allah (...tak terasa ada sungai kecil mulai mengalir dari kedua bola mataku ketika tombol-tombol keyboad Sonny-VAIO-tua-ku mulai mengetik berkumpul orang-orang yang mengingat dan menyebut nama Allah...(ya Allah, jadikanlah kami orang yang selalu mengingatMu dimanapun kami berada termasuk di negeri batu cadas ini...).
Aku semakin merapatkan jaketku, karena udara semakin dingin. Aku berjalan sendiri, memecah sunyi malam, kakiku menapaki bumi Allah yang penuh daun-daun dari pohon yang berguguran sementara ingatanku mengembara dan tertancap pada sebuah tulisan bror yang bernama A. Von Denffer dalam bukunya "A Day with The Prophet (suatu hari bersama Rasulullah)" . Buku yang bersampul pemadangan perputaran suasana dalam satu hari mulai fajar menyingsing hingga malam menyelimuti, adalah kumpulan hadist-hadist pilihan yang menggambarkan bagaimana apa-apa yang dilakukan Rasulullah SAW (semoga selawat dan salam tercurah kepadan beliau, kelurga dan para sahabat) mulai dari bangkit dari tidur hingga saat akan tidur.
Dalam pengantar buku tersebut bror von Denffer menulis ”…For many reason this may seem to be too difficult task. To live by the sunna would certainly make a difference: but whether it is in fact more difficult to live by God-given rules than by the man-imposed and alienating patterns and norms of behaviour that are the basis of today's way of life, can only be discovered if one tries it for oneself... Think about it and ask yourself whether it has simply been too difficult, or whether by the grace of Allah, you have benefited from it”.
Jazakallahu khairan bror Rozaq, atas sharing pengalamanmu berpuasa senin-kamis selama 3,5 tahun terakhir bahkan ketika musim panas yang lama puasanya 20-21 jam pun engkau tetap istiqomah. Pengalamanmu berpuasa sunnah senin-kamis membenarkan apa yang ditulis bror van Denffer diatas yang dalam bahasa kita artinya kurang lebih “hidup berdasar sunnah Nabi akan membuat hal yang berbeda, namun apakah kenyataanya hidup berdasarkan aturan Allah dan sunnah Nabi tadi lebih sulit dibandingkan hidup menurut aturan manusia, hanya bisa dijawab apabila seseorang coba melakukannya…. Tanyalah kepada dirimu sendiri apakah pola hidup (menurut aturan Allah dan sunnah Nabi) tsb lebih sulit atau dengan izin Allah, engkau mendapat banyak manfaat dari pola hidup ( yang menurut aturan Allah dan sunnah Nabi) tersebut”.
Wallahu’alam bishowab...
www.eramuslim.com






Jaring Maya yang Menyesatkan
Hujan gerimis membasahi satu sore menjelang malam di bulan Oktober. Di teras itu saya duduk bersamanya, seorang perempuan awal tiga puluhan. Wajahnya pucat dan cekung. Matanya sembab. Ia bukan lagi sosok ceria yang pernah saya kenal. Betapa derita telah menyedot kebahagiaannya. Di depan saya dia menjadi begitu rapuh.
“Mengapa laki-laki seperti itu, Mbak? Orang yang seharusnya membina dan membimbing keluarga, tega menyakiti hati istrinya? Meskipun hanya lewat facebook atau hp, disebut apa itu kalau bukan selingkuh? Yang ada dalam pikirannya hanya seks dan memikat perempuan. Aku nggak tahan lagi, Mbak. Ini sudah yang kesekian kalinya. Aku capek…,”lirih bibirnya berkata.
Saya terdiam. Hanya sanggup mengusap arus air yang jatuh dari matanya, mengalir di pipinya yang tirus.
“Untuk apakah pernikahan itu mbak? Apa artinya selain penjara bagi kami? Aku berjuang mengalahkan egoku untuk dia. Aku mengubur cita-citaku. Aku bekerja untuk membantunya menafkahi keluarga. Aku menjaga harta dan anak-anaknya. Aku melayaninya sekuat aku bisa di sisa-sisa tenagaku. Aku menjaga harga diri dan kehormatannya di depan orang. Aku tidak mau menyerewetinya begini terus, aku capek menjadi orang yang selalu mengomeli dia. Sekarang dia menganggap aku terlalu ikut campur urusannya. Allah.. mengapa dia tega??” jeritnya tertahan di sela isak tangisnya.
Tangisnya tiba-tiba meledak. Saya memeluknya. Angin berhenti bertiup. Pepohonan tak lagi menggesek dedaunannya, seakan menyelami perasaan seorang wanita yang sedang kehilangan sayapnya.
“Menangislah, Dek. Habiskanlah tangismu malam ini, hingga tak ada lagi sisa kemarahanmu esok. Anak-anak, wajah kamu yang akan mereka lihat esok. Untuk merekalah kau harus berjuang untuk hidup,” saya mencoba membuatnya bangkit.
Tampaknya topik anak menjadi hal yang sangat sensitif baginya. Tangisnya kian dalam di dada saya. Cakrawala membenamkan cahaya sore perlahan. Alam mendengarkan nyanyian cinta seorang istri kepada suaminya. Begitu halus dan manis. Namun mengapa justru suaminya tak dapat mendengar kasidah indah itu?
Tak sekali dua saya mendengarkan curhatan teman-teman tentang perilaku para suami. Sebenarnya saya tidak begitu suka, tetapi daripada mereka bercerita kepada orang tang tidak tepat, lebih baik saya sediakan telinga. Sesungguhnya perempuan hanya perlu didengarkan.
Paling banyak mereka mengeluhkan tentang selingkuhan. Sejak dari berteman terlalu akrab sampai pada perilaku seksual dengan orang selain istrinya. Kali ini teman saya ini bercerita tentang perilaku suaminya yang mulai aneh-aneh sejak aktif berinternet. Sejak ada internet di rumah, suaminya selalu nongkrong di depan komputer. Sampai akhirnya teman saya sendiri tertidur karena lelah seharian bekerja dan mengurus rumah. Mengajak suaminya untuk tidur bersama-sama pun sering ditampik. Mereka mulai jarang mengobrol. Suaminya asyik berinternet, dia sendiri sibuk dengan pekerjaan rumah dan anak-anak. Terkadang sampai menjelang subuh suaminya baru tidur. Pada handphone suaminya dia pun sering mendapati ada panggilan atau telepon yang dilakukan lewat tengah malam. Ketika nomor itu ditelepon kembali, ternyata suara di seberang adalah milik seorang perempuan.
Sebelumnya ia menemukan gambar-gambar yang tidak pantas dalam folder tersembunyi di komputer rumah mereka. Sakit hati sudah pasti. Ia yang dengan tegasnya menolak pornografi, memiliki suami yang menjadi konsumen pornografi. Naif. Sekali, dua, tiga, empat, dan sekian kali suaminya selalu minta maaf dan berjanji untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya. Lama-lama ia terbiasa meskipun sungguh tidak ingin.Menganggap istrinya baik hati, suaminya malah mulai berekperimen dengan hawa nafsunya: membuat ID facebook samaran untuk menggaet perempuan gampangan, terakhir ia mendapati suaminya melakukan virtual seks dengan perempuan melalui video call. Setan bertepuk tangan.
Menyakitkan.
Yah, bagi perempuan, apa lagi yang dapat dirasa? Terhina, malu, rendah diri, marah, putus asa, merasa dikhianati.
Teknologi tidak selalu membawa kebaikan bagi manusia. Semakin kuat, semakin rapuh pula ia. Teknologi ibarat pisau bermata dua. Bisa digunakan untuk memotong sayuran, tetapi sekaligus dapat melukai jari kita sendiri. Dunia maya dan jejaring sosial di internet telah membuka ruang privat menjadi lebih luas daripada ruang umum. Karena itu, tak heran lagi bila kebanyakan selingkuh dimulai dari ruang-ruang tertutup itu. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga berlomba memenuhi hawa nafsunya di sana. Ada yang rela meninggalkan keluarganya demi kesenangan semu itu. Dipikirnya orang yang diajak berselingkuh lebih sesuai. Dia tidak menyadari bahwa setanlah yang telah menipunya.
“Ini ujian kenaikan tingkat untukmu, Dek. Allah sangat sayang kepadamu. Tak usahlah kita memikirkan hak. Bila suamimu tak sanggup memenuhinya, biar Allah yang mencukupkan. Ingatkan suamimu, ia sedang tersesat. Lihat apa yang belum sempurna kamu berikan kepadanya. Tak ada salahnya mencoba memperbaiki. Bersabarlah. Tak ada yang sempurna. Jika kamu tinggalkan dia, berarti kamu melepaskan ladang dakwah yang Allah berikan saat ini untukmu. Cinta itu memberi, tanpa menagih hasil. Kamu ingat kan, lilin yang habis lumat karena menerangi sekelilingnya? Kamu pasti bisa, Dek. Kamu hanya sedang tidak fokus dan terlalu sedih sekarang. Kamu bisa lalui ini. Kamu perempuan luar biasa,” saya menggenggam tangannya erat.
Seperti tersengat, tangisannya mulai reda. Saya tahu dia masih menyimpan semangat yang terkubur kepanikan dan kesedihan selama bertahun-tahun. Ia terdiam, memandangi daun melati air yang terangguk. Aliran air mata mulai terhenti menyisakan manik berkilau di matanya. Saya mengangkat wajahnya.
“Katakan kamu bisa! Kamu bisa menangis, mengapa tidak bisa tersenyum?” ujar saya.
Ia hanya menunduk. Tetapi tak ada lagi tangisnya. Saya mencolek hidungnya. Ia menatap saya lalu menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyum tipis.
Ah, sahabat… dunia ini membahagiakan jika kau tahu pahitnya sedih. Menangislah jika kau ingin. Malam ini saja. Karena esok matahari akan membawamu menjadi dirimu yang baru. Berjanjilah untuk berjuang mencari jalan dari kebuntuan hidupmu. Jadilah lilin untuk keluarga dan masyarakatmu. Jangan pernah anggap dunia ini tak adil untukmu. Kehidupan abadi yang menyenangkan akan menjadi milikmu.
Untuk temanku yang mulai bermain dengan nafsumu, ketahuilah bahwa apa yang kau pegang adalah air laut yang terus merosot dari genggamanmu. Dan ketika kau minum airnya, dahagamu menjadi. Saat kau melihat orang lain lebih cantik/tampan dari istri/suamimu, mengapakah harus merasa istri/suamimu tidak seperti harapanmu? Kecantikan itu sesaat, harta itu sementara. Dan ketika semuanya hilang, kau punya apa?
Tak ada yang perlu diputus. Mengapa harus meninggalkan mereka? Kau merasa telah meninggalkan ketidaksempurnaan istri/ suamimu untuk sebuah kebahagiaan dalam sebuah kesempurnaan katamu? Aku katakah bahwa itu tipuan! Itu perselingkuhan! Tahukah kau, tak ada yang sempurna kecuali kau yang menanam kesempurnaan itu di hatimu. Dan kau mencari orang lain yang kau anggap bisa mengisi hatimu? Mengapakah? Dan kau mencari sejuta alasan untuk melegalisasi egomu? Untuk apakah?
Sahabatku, jika suami/istrimu menjadi sumber masalahmu, tak inginkah engkau bersabar? Kepada merekalah kamu bisa mencari sejumput rumbia untuk atapmu di dunia. Pada merekalah tersimpan kekuatan dirimu. Temukanlah. Jangan pernah katakan kau membenci istri/suamimu. Karena kepada merekalah kamu kembali di dunia, sejauh apa pun kau bisa berlari. Jangan pernah bakar jembatan di belakangmu, karena suatu hari mungkin kamu harus kembali. Arungi petualanganmu, tetapi ingatlah suatu saat kamu harus kembali. Kejarlah impianmu, tapi jangan lupa suatu hari kau harus menapak bumi.
Jika sekali kau merasa sakit, biar hujan yang menghapusnya. Maafmu akan memberi keajaiban di hatimu dan di hatinya. Jika kau pernah menyakiti hati suami/istrimu, jadilah pemberani untuk meminta maaf, mengakui kesalahan, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Tak perlu putus asa, tak usah merasa tak mungkin. Cinta itu ada, tapi kau perlu bersabar. Cinta itu kau tanam, bukan cuma kau petik.
Dan bila kau telaten menanam cintamu, bila suatu saat tak ada yang bisa kau pegang di dunia ini, cinta akan mengisi ruang hatimu.
Kabar bagusnya, cinta itu akan membawamu menuju cinta yang hakiki di dunia abadi.
Hmmm... adakah itu artinya buatmu?
www.eramuslim.com









































Bukankah Menjadi Tua Itu Wajar Dan Pasti?
oleh Nurudin Jumat, 13/11/2009 08:26 WIB Cetak | Kirim | RSS
Aku tetap tak bisa memahami alasan ibu satu orang anak ini yang dengan jelas-jelas menolak permintaan atau tepatnya perintah sang suami untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja demi anak tunggalnya yang kini sudah sekolah tk. Adalah alasan sang ibu muda ini yang tidak bisa kumengerti, tidak mau berhenti bekerja karena menurutnya menjadi ibu rumah tangga hanya akan membuatnya cepat tua. Astaghfirulloh! Andai saja yang menyampaikan alasan ini adalah istriku, maka saat itu juga aku sudah mempunya satu alasan kuat untuk melarangnya bekerja.
Sudah seminggu lebih bocah laki-laki kurus itu tidak mau sekolah jika tidak diantar dan ditungguin oleh ibu atau bapaknya. Begitu juga ketika bocah itu masih tinggal bersama kakek dan neneknya di kampung. Setiap hari selalu saja ada alasan yang dibuatnya untuk tidak masuk sekolah. Alasan sakitlah yang selalu menjadi senjata bocah ini. Sakit perut lah, mata lah, pusing lah, dan berbagai macam alasan sakit lainnya. Bahkan untuk mendukung alasannya, bocah ini juga melakukan aksi mogok makan ( meski tidak total ). Tuntutannya pada sang kakek nenek saat itu hanya satu, diantar ke Tangerang berkumpul bersama ibu bapaknya, dan tentunya sekolah di sana.
Minggu kemarin, sang ibu akhirnya menjemput putra tunggalnya meskipun saat itu ia belum tahu pasti siapa nantinya yang akan mengasuh putranya jika ia dan suaminya pergi bekerja. Pertama kali melihat kedatangan bocah ini aku sempat kaget. Terakhir melihatnya lebaran kemarin, badannya gemuk, sehat dan ceria. Tapi kini, badannya kurus, ceking dan terlihat tidak bersemangat. Ini semua bukan karena sang bocah tak dirawat kakek neneknya dengan baik, tetapi karena sang anak terus ngambek, minta diantar ke ibu bapaknya di Tangerang. Bukan tidak peduli dengan tuntutan sang cucu, tapi kakek neneknya justru khawatir cucu kesayangan mereka tidak ada yang menjaganya jika ibu bapaknya pergi bekerja.
Hari kedua kedatangan bocah ini, sang ibupun mendaftarkannya ke salah satu tk Islam, tak jauh dari rumah. Namun sayang, bocah ini tidak mau sekolah jika tidak diantar dan ditungguin ibu atau bapaknya. Meski sang ibu sudah mendapatkan orang yang mau mengasuh bocah ini, namun sang bocah tetap bersikeras tidak mau sekolah tanpa ibu atau bapaknya. Setiap pagi aku melihat bocah ini menangis, bahkan berontak ketika kedua orang tuanya membujuknya untuk sekolah.
Adalah sang bapak bocah ini yang kemudian menyarankan sang istri untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Bagaimanapun anaknya harus lebih diutamakan, juga pendidikannya. Ia merasa yakin bahwa meski hanya dirinya yang bekerja, ia mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya meskipun secara sederhana.
Beberapa kali kudengar sang suami meminta sang istri untuk segera membuat pengunduran diri. Beberapa tetangga termasuk istriku pun ikut memberi masukan. Kami semua tak tega melihat bocah ini setiap pagi menangis dan meronta. Tapi, apa yang kami dengar saat itu sungguh tak pernah kami bayangkan sebelumnya.
“ Tidak! Saya tidak akan berhenti bekerja. Saya tidak mau hanya menjadi ibu rumah tangga, nanti cepat tua ! “ jawab sang istri enteng, tanpa beban, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Semula kami mengira itu hanya gurauan belaka, meskipun saat itu tak ada tanda-tanda bahwa dia sedang bercanda. Terlebih bahwa hari-hari berikutnya, sang istri tetap berangkat kerja sementara sang suami harus terus membujuk sang bocah agar mau sekolah diantar tetangga yang kini dimintanya untuk mengasuh sang anak.
***
Menjadi ibu rumah tangga, sebuah profesi yang hanya akan membuat cepat tua! Kata-kata itu yang membuatku geram, juga istriku atau bahkan semua tetanggaku yang mendengar waktu itu. Terlepas dari kodrat, bukankah menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah jihad terbesar yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan yang sudah menikah. Bukankah menjadi ibu rumah tangga adalah salah satu jalan yang bisa mengantarkannya ke syurga.
Menjadi cepet tua, teori dari manakah yang ia gunakan untuk alasan?!. Malah, jika kupikir motivasinya bekerja selama ini tidaklah murni untuk membantu sang suami memperbaiki ekonomi keluarga. Ada motivasi lain yang tentunya menurutnya bisa membuatnya awet muda. Astaghfirulloh, aku tak ingin berburuk sangka, apalagi terlalu jauh memasuki urusan rumah tangga orang lain. Aku hanya merasa bahwa alasan yang dia kemukakan, sangat-sangatlah tidak benar.
Menjadi apapun, entah itu seorang wanita karier, ibu rumah tangga atau pembantu sekalipun, menjadi tua adalah hal yang wajar, bahkan pasti. Terima atau tidak, seiring berjalannya waktu, proses menjadi tua bakal terjadi. Cepat atau lambat, bukan dari profesi sehari-hari, juga bukan dari bahan-bahan kosmetik yang digembar-gemborkan mampu memperlambat proses penuaan. Ada hal yang luput dari pemahamannya, bahwa bagaimana hidup ini, senang susah salah satunya dipengaruhi oleh bagaimana kita menerima dan menyikapi hidup itu sendiri.
Saudariku, aku berharap apa yang terlanjur kau ucapkan, tidaklah seterusnya akan kau jalankan. Aku yakin hati kecilmu menolak perkataan mulutmu. Aku yakin, naluri seorang ibu masih ada padamu, hanya saja ego dan nafsumu masih mengusaimu. Ingat, setinggi apapun penghasilanmu, secemerlang apapun kariermu, dalam rumah tangga kau tetaplah seorang istri yang harus patuh dan taat pada suami, kau tetaplah sorang ibu yang akan diminta pertanggungjawaban atas anak dan keluarga. Buang jauh-jauh dari pikiranmu, bahwa setelah tua suamimu akan meninggalkanmu. Jika itu terjadi, itu bukanlah karena kau menjadi tua, tapi mungkin salah satunya karena kau tak menghormati mereka dan juga tak bertanggung jawab terhadap rumah tangga yang telah kau bina.
Saudariku, aku berharap kau menyadari kekeliruanmu. Turuti perintah suamimu, toh itu adalah perintah yang benar. Pikirkan masa depan anakmu. Selama ini dia sudah mengalah harus terpisah darimu, apakah kau masih tega membuat darah dagingmu sendiri merasa tak memiliki ibu, sementara kau ada, terlihat oleh matanya namun tak pernah menyentuh hatinya. Saudariku, sadarlah………….sadarlah………
****
Dan tadi pagi, sebelum berangkat kerja aku masih mendapati bocah itu merengek bahkan meronta ketika sang bapak membujuknya untuk sekolah. Sementara sang ibu, sudah berangkat ke tempat kerjanya setengah jam yang lalu. Astaghfirulloh…….!
www.eramuslim.com

Selasa, 13 April 2010

Sebuah Muhasabah Diri...

Tuhanku,
Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-MU yang luas
Aku hanyalah setetes embun di lautanMU yang meluap hingga ke seluruh samudra
Aku hanya sepotong rumput di padangMU yang memenuhi bumi
Aku hanya sebutir kerikil di gunung MU yang menjulang menyapa langit
Aku hanya seonggok bintang kecil yang redup di samudra langit Mu yang tanpa batas

Tuhanku
Hamba yang hina ini menyadari tiada artinya diri ini di hadapanMU
Tiada Engkau sedikitpun memerlukan akan tetapi
hamba terus menggantungkan segunung harapan pada MU

Tuhanku..baktiku tiada arti, ibadahku hanya sepercik air
Bagaimana mungkin sepercik air itu dapat memadamkan api neraka MU
Betapa sadar diri begitu hina dihadapanMU
Jangan jadikan hamba hina dihadapan makhlukMU
Diri yang tangannya banyak maksiat ini,
Mulut yang banyak maksiat ini,
Mata yang banyak maksiat ini
Hati yang telah terkotori oleh noda ini memiliki keninginana setinggi langit
Mungkinkah hamba yang hina ini menatap wajahMu yang mulia???

Tuhan Kami semua fakir di hadapan MU tapi juga kikir dalam mengabdi kepada MU
Semua makhlukMU meminta kepada MU dan pintaku.
Ampunilah aku dan sudara-saudaraku yang telah memberi arti dalam hidupku
Sukseskanlah mereka mudahkanlah urusannya

Mungkin tanpa kami sadari , kamu pernah melanggar aturanMU
Melanggar aturtan qiyadah kami,bahkan terlena dan tak mau tahu akan amanah
Yang telah Tuhan percayakan kepada kami. Ampunilah kami

Pertemukan kami dalam syurga MU dalam bingkai kecintaan kepadaMU
Tuhanku.Siangku tak selalu dalam iman yang teguh
Malamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat,
Pagiku tak selalu terhias oleh dzikir pada MU
Begitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikit
Janganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa pada Mu
Atau dalam maksiat kepadaMU . Ya Tuhanku Tutuplah untuk kamu dengan sebaik-baiknya penutupan !